Makam Raja Lakidende: Warisan Sejarah, Ruang Adat, dan RTH di Jantung Konawe

Halo Sobat Lingkungan..
Sejarah Konawe tidak bisa dilepaskan dari sosok Raja Lakidende, penguasa pertama yang memeluk agama Islam. Keputusan beliau menerima Islam di masa pemerintahannya menjadi tonggak penting perjalanan spiritual masyarakat Konawe. Atas peran besarnya, beliau kemudian dikenal dengan gelar Sangia Ngginoboru, yang secara harfiah berarti raja pertama yang memeluk Islam. Gelar ini bukan sekadar sebutan, melainkan peneguhan posisi beliau sebagai figur kunci yang menghubungkan tradisi lokal dengan ajaran Islam yang berkembang pesat setelahnya.
Hingga kini, makam Raja Lakidende menjadi salah satu situs budaya paling bersejarah di Kabupaten Konawe. Tidak hanya sebagai tempat ziarah, area ini juga berfungsi sebagai ruang pertemuan adat dan spiritual. Tokoh-tokoh masyarakat, pejabat daerah, hingga tamu penting kerap menyempatkan diri untuk berkunjung, memberikan penghormatan, dan merenungkan kembali jejak panjang sejarah Konawe.
Salah satu ritual adat yang masih dilestarikan di makam ini adalah Mosehe, tradisi sakral masyarakat Tolaki yang telah ada sejak abad ke-13. Mosehe dilaksanakan dengan tujuan membersihkan diri dari hal-hal buruk, menolak bala, dan menyelesaikan konflik dalam masyarakat. Prosesi ini dijalankan secara khidmat dengan melibatkan tokoh adat, pemerintah, serta warga sekitar. Pemotongan kerbau sebagai simbol persembahan, doa-doa adat, serta tarian tradisional membuat Mosehe bukan hanya sebuah upacara, tetapi juga perwujudan kesadaran kolektif akan pentingnya harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta (Ombu).
Secara lokasi, Makam Raja Lakidende berada di Kelurahan Arombu, Kecamatan Unaaha, dengan luas area sekitar 0,78 Ha. Kawasan ini sekaligus difungsikan sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH), sehingga tidak hanya bernilai budaya, tetapi juga memiliki fungsi ekologis. RTH Taman Makam Raja Lakidende dirancang untuk menjaga keseimbangan ekosistem kota, memperindah kawasan, dan memberikan kenyamanan bagi pengunjung yang datang.
Beberapa jenis vegetasi tumbuh di area ini, di antaranya pohon Tanjung (Mimusops elengi), Johar (Senna siamea Lam), Mahoni (Swietenia macrophylla King), dan Trembesi (Samanea saman) yang menjadi peneduh alami. Kehadiran pohon-pohon besar ini membuat area makam terasa teduh, sejuk, dan memberi nuansa khidmat. Selain itu, terdapat pula tanaman perdu dan hias seperti Petai Cina (Leucaena sp), Drasena (Dracaena sp), Puring (Codiaeum variegatum), serta Kaktus Gurun (Euphorbia ammak). Meski jumlahnya masih terbatas, keberadaan tanaman-tanaman ini memberi sentuhan estetik yang menambah keindahan kawasan. Ke depan, penambahan jenis tanaman hias dan perdu akan semakin mempercantik suasana, sehingga makam tidak hanya menjadi situs sejarah tetapi juga ruang terbuka hijau yang nyaman dan artistik.
Dengan perpaduan nilai sejarah, spiritualitas, adat istiadat, dan fungsi ekologis, Makam Raja Lakidende adalah contoh nyata bagaimana sebuah situs budaya dapat diberdayakan menjadi ruang publik yang bermanfaat. Bagi masyarakat Konawe, kawasan ini adalah simbol identitas, penghormatan terhadap leluhur, sekaligus pengingat bahwa pembangunan daerah harus tetap berpijak pada akar sejarah dan kelestarian alam.
